Pertanian

Pertanian, Desa Manukaya Bali

Pertanian

Lanskap Agraris Manukaya

Penjaga Hulu Ekologi DAS Pakerisan

Membentang seluas 1.496 hektare di dataran tinggi vulkanis Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar, Desa Manukaya diberkahi sumber mata air suci Tirta Empul yang menjadi hulu (ulu) aliran DAS Pakerisan. Kehidupan agraris di sini ditopang oleh jaringan subak lokal yang merawat tata guna lahan, menjaga ketahanan pangan, sekaligus melestarikan ekosistem warisan peradaban Bali Kuno.

Jantung Pengairan Alam

Kawasan Manukaya adalah denyut nadi utama yang mengairi ribuan hektare persawahan (subak) di sepanjang sistem hidrologi hilir Gianyar.

13 Banjar Banjar Dinas & 10 Desa Pakraman

Pusat tata kelola masyarakat di desa ini terbagi secara geografis ke dalam dua wilayah utama, yakni Dangin Tukad dan Dauh Tukad.

1.032 Ha Total Lahan Produktif

Dari total luas wilayah, tata guna lahan didominasi oleh perkebunan/tegalan seluas ±891 Ha dan area persawahan produktif ±141 Ha.

20 Subak Organisasi Pengairan & Tani

Aktivitas ekonomi agraris digerakkan secara komunal oleh 14 kelembagaan Subak Abian (tegalan) dan 6 Subak Air (persawahan).

Filosofi Tri Hita Karana

Kelembagaan Subak Desa Manukaya

Subak-subak di Manukaya (seperti Subak Mancingan, Manukaya Let, Pekerisan Ulu, dan Penempahan) beroperasi sebagai republik agraris otonom. Sistem ini berdiri kokoh di atas tiga pilar keseimbangan.

Parahyangan (Spiritual)

Jantung aktivitas subak diatur oleh Eedan Pengaci (ritual agraris) di Pura Ulun Suwi / Bedugul. Sinkronisasi ritual ini menyatukan ritme tanam petani secara serentak, sebuah jeda biologis yang terbukti ampuh memutus siklus hidup hama tanaman tanpa bahan kimia berbahaya.

Pawongan (Sosial)

Tata kelola demokratis dan egaliter yang dipimpin oleh Pekaseh. Krama subak diikat oleh hukum adat komunal (awig-awig) yang mengatur hak keadilan air, kewajiban, dan sanksi tegas, serta memfasilitasi kelompok gotong-royong saat masa panen tiba.

Palemahan (Ekologis)

Rekayasa hidrolika presisi yang mengelola limpahan air murni langsung dari sumber hulu pegunungan. Menggunakan pembagi air proporsional (Tembuku) untuk menjamin tidak ada lahan yang kekeringan, menjaga kelestarian ekologi tanpa merusak kontur terasering bumi.

Transisi Modern

Intensifikasi Pertanian Berkelanjutan

Sebagai penyangga kawasan hulu yang sensitif terhadap polutan, kelompok tani di Manukaya terus diupayakan mengadopsi pertanian ramah lingkungan, termasuk pendekatan System of Rice Intensification (SRI) dan pola tanam Jajar Legowo. Metode sirkulasi udara ini merekayasa iklim mikro sawah menjadi lebih terang guna menekan hama secara alami.

Kebutuhan Benih Jauh Lebih Irit Penurunan drastis dari 50 kg/Ha menjadi di bawah 10 kg/Ha.
Efisiensi Air Hemat 20-30% Irigasi berselang (macak-macak) menjaga hulu tetap berlimpah.
Kualitas Hulu Air Terjaga Optimalisasi Organik Pengurangan pupuk/pestisida anorganik mencegah pencemaran bahan kimia dari hulu Manukaya ke desa-desa di bawahnya.
Zero Waste Economy

Sistem Pertanian Terpadu (SIMANTRI)

Beberapa kelompok tani di Desa Manukaya mengimplementasikan rantai nilai sirkular dengan mengintegrasikan budidaya tanaman pangan dan peternakan Sapi Bali. Model ini dirancang untuk menciptakan kemandirian pangan, pakan, dan pupuk secara lokal.

1

Limbah Tanaman

Jerami padi dan brangkasan tidak dibakar, melainkan difermentasi dengan mikrobia menjadi silase pakan ternak sapi berkualitas tinggi.

2

Peternakan Sapi

Sapi Bali peliharaan peternak tidak hanya bernilai ekonomi tinggi, tetapi juga bertindak sebagai "pabrik pupuk hidup" dan penggerak kemandirian komunal.

3

Pupuk & Biopestisida

Kotoran padat diproses di komposter menjadi pupuk organik. Urine sapi disuling menjadi pupuk cair (biourine) dan agen biopestisida alami.

Resiliensi & Diversifikasi

Pemberdayaan Ekonomi & Agrowisata

Agro-Processing KWT Mertha Jati

Guna meningkatkan nilai tambah hasil kebun lokal, Kelompok Wanita Tani (KWT) Mertha Jati dilatih mengolah komoditas panen seperti jeruk dan kelapa menjadi produk bernilai jual tinggi, mulai dari permen, rempeyek, hingga Virgin Coconut Oil (VCO).

Komodifikasi Lanskap Terasering Mancingan

Banjar Mancingan berhasil menggeser ekonomi pasif menjadi ekonomi pengalaman (Agrowisata). Sawah terasering yang estetis dipadukan dengan kawasan perkebunan, membuka lapangan kerja baru bagi pemandu lokal wisata trekking pedesaan.

Mitigasi Invasi Sampah: Pengelolaan Mandiri & Teba Modern PKK

Untuk melindungi kemurnian hidrolika Subak dari cemaran sampah, jejaring Ibu-ibu PKK di 13 banjar dinas secara aktif mengelola dan memilah sampah sesuai jenisnya. Sampah organik diolah melalui sistem teba modern (pengomposan skala rumah tangga) untuk dijadikan pupuk, sampah anorganik dipilah dan dijual, sedangkan sampah residu diangkut dan dibuang ke TPA. Inisiatif ini menciptakan perputaran kas riil bagi masyarakat sekaligus menjaga ekosistem.